
ERP Menjadi Solusi Besar yang Sering Gagal di Lapangan
ERP (Enterprise Resource Planning) dijanjikan sebagai solusi untuk semua masalah bisnis:
produksi, keuangan, gudang, HR, hingga laporan manajemen semuanya dalam satu sistem. Namun realitanya, banyak pabrik di Indonesia yang sudah menginvestasikan ratusan juta hingga miliaran rupiah, tapi sistemnya tidak pernah benar-benar jalan.
“Sudah beli ERP, tapi akhirnya tetap pakai Excel.” kalimat yang terlalu sering terdengar di pabrik-pabrik.
Statistik Global: 55% Proyek ERP Gagal
Menurut riset dari Panorama Consulting (2024):
- 55% proyek ERP gagal memenuhi ekspektasi bisnis.
- 28% bahkan dihentikan di tengah jalan karena biaya membengkak atau resistensi tim.
Artinya: setengah dari perusahaan yang mencoba “go digital” tidak berhasil bukan karena teknologinya salah, tapi karena manajemen perubahannya gagal.
1. Salah Persepsi: ERP = Software
Banyak perusahaan mengira ERP hanyalah “aplikasi baru.” Padahal ERP adalah perubahan total dalam cara kerja dan komunikasi antar divisi.
ERP bukan cuma soal tombol dan form, tapi cara baru:
- Menginput data dengan disiplin,
- Membagi informasi antar departemen,
- Mengambil keputusan berbasis data real-time.
Kalau pola pikir di lapangan masih “biasa nanti saja input-nya,”
ERP sehebat apapun akan jadi sistem yang kosong. Gagal ERP sering kali bukan karena sistemnya rumit, tapi karena manusia di dalamnya tidak berubah.
2. Implementasi Terlalu Cepat, Tanpa Tahap
Banyak vendor langsung “lempar sistem full” tanpa memahami kultur kerja di pabrik. Alhasil, tim produksi, finance, dan gudang kebingungan karena tiba-tiba semua proses berubah dalam semalam.
ERP seharusnya diimplementasikan bertahap dan modular:
- Mulai dari data dasar (HR, inventory, finance).
- Lanjut ke modul produksi & penjualan.
- Terakhir integrasi antar divisi dan dashboard manajemen.
Dengan pendekatan ini, karyawan punya waktu beradaptasi dan sistem berjalan lebih stabil.
3. Tidak Ada Champion Internal
ERP butuh “penggerak” di dalam perusahaan biasanya disebut Project Champion. Tanpa sosok ini, sistem hanya jadi proyek vendor, bukan milik tim internal.
Tugas seorang champion:
- Menyambungkan komunikasi antara vendor dan user.
- Memastikan tim tetap disiplin input data.
- Menjadi troubleshooter di lapangan.
Banyak implementasi ERP gagal karena tidak ada orang yang mau “berdiri di tengah.”
4. Menganggap ERP sebagai Biaya, Bukan Investasi
ERP bukan hanya soal pengeluaran, tapi soal efisiensi jangka panjang. Namun banyak manajemen memotong anggaran di tahap krusial:
- Pelatihan user,
- Dokumentasi SOP,
- Support pasca implementasi.
Akibatnya, sistem selesai tapi tidak dipakai. Padahal ROI ERP justru muncul setelah sistem berjalan 3–6 bulan secara konsisten. ERP tidak memberikan hasil instan. Ia membayar kembali investasinya lewat waktu, akurasi, dan transparansi data.
5. Tidak Disesuaikan dengan Proses Bisnis
Setiap pabrik punya alur kerja unik. Sayangnya, banyak sistem ERP “copy-paste” dari template perusahaan lain tanpa menyesuaikan proses produksi lokal.
Contoh umum:
- Sistem ERP impor tidak memahami sistem shift operator di pabrik Indonesia.
- Modul approval terlalu kaku dan tidak cocok dengan kebiasaan tim lapangan.
Solusinya adalah ERP yang fleksibel dan bisa dikustomisasi modular sesuai kebutuhan tiap divisi.
6. Data Awal Berantakan
ERP hanya sebaik data yang dimasukkan ke dalamnya. Kalau data awal (stok, vendor, SKU, karyawan) tidak akurat, hasil laporan ERP juga akan salah total.
Garbage in, garbage out. ERP tidak memperbaiki data, ia hanya memproses apa yang kamu beri. Sebelum implementasi, lakukan dulu data cleansing dan standarisasi format antar divisi.
7. Tidak Ada Pendampingan Pasca-Go Live
ERP bukan proyek satu kali. Begitu sistem aktif (go live), justru di situlah tantangan sebenarnya dimulai. Tanpa pendampingan, user sering kebingungan menghadapi error kecil, dan akhirnya kembali ke cara lama (manual). Vendor yang baik tidak hanya menjual software, tapi juga mendampingi adaptasi dan maintenance jangka panjang.
Tanda ERP Kamu Berhasil
| Indikator | Sebelum ERP | Setelah ERP Berhasil |
| Data Stok | Manual & lambat | Real-time |
| Laporan Keuangan | Terlambat | Otomatis harian |
| Produksi | Tidak sinkron dengan gudang | Terintegrasi |
| Keputusan Manajemen | Berdasarkan asumsi | Berdasarkan data aktual |
Jika empat hal di atas tercapai, artinya ERP bukan sekadar sistem tapi sudah menjadi urat nadi bisnis.
Kegagalan ERP tidak terjadi karena pabrik tidak siap teknologi, tapi karena tidak siap berubah.ERP tidak akan menggantikan manusia, tapi ia menguji apakah manusia mau bekerja lebih transparan dan terstruktur. ERP yang gagal biasanya bukan karena software-nya salah, tapi karena ekspektasi dan implementasinya tidak realistis. Layana.ID membantu pabrik di Indonesia membangun dan mengimplementasikan sistem ERP yang sesuai kebutuhan lapangan modular, fleksibel, dan didampingi penuh hingga benar-benar berjalan. Dari audit proses, desain sistem, hingga pelatihan user, kami pastikan transformasi digital tidak berhenti di tahap “implementasi.” Kunjungi www.layana.id untuk konsultasi implementasi ERP yang benar-benar berhasil.
